salah satu dari bermacam-macam khas logat orang Pati adalah pemberian akhiran "em". Akhiran "em" tersebut berarti "mu", khusus untuk yang kata berakhiran huruf vokal maka menjadi "nem". Misalnya mobilmu menjadi mobilem, gelasmu menjadi gelasem, topimu menjadi topinem, bukumu menjadi bukunem, dan sebagainya.
Pada suatu hari ada rombongan orang yang sedang melakukan perjalanan luar kota, lalu sesampainya di Pati, mereka istirahat dan mengisi perut di angkringan. Setelah kenyang lantas salah satu dari mereka mau membayar ke penjualnya. Dia berkata kepada penjual: "Wis mbak, Susu nem piro mbak?". Bagi orang Pati, susu nem dapat diartikan "susumu", sehingga penjual yang juga perempuan mengartikan perkataan tersebut sebagai penghinaan padahal pembeli tadi bermaksud untuk menanyakan jumlah harga susu sejumlah enam gelas yang dibelinya. Tidak dapat dipungkiri, penjual langsung marah kepadanya yang hendak membayar. Pada saat itu juga ada pembeli lain, yang merupakan orang Pati dan mengetahui bahwa rombongan tersebut bukan dari Pati, langsung menengahi kesalahpahaman mereka dan menjelaskan maksud dari perkataan yang telah diucapkan. Akhirnya mereka malah menjadi tertawa terpingkal-pingkal setelah mereka tahu maksudnya.
No comments:
Post a Comment